Bibir dalam Kloset

"Parle quand on fait du kaka", Idea Bhakti Pertiwi http://www.facebook.com/idea.b.pertiwi https://twitter.com/idea_pertiwi
http://instagram.com/ideapertiwi
http://ideapertiwi.wix.com/portofolio
http://ideapertiwi.wix.com/ceremonials

Permalink

DEKONSTRUKSI, GLOBALISASI DAN KREATIVITAS

TUGAS LAPORAN BACAAN

TEORI KEBUDAYAAN

 

Disusun oleh:

Idea Bhakti Pertiwi

1406591314

 

Magister Linguistik

Tahun 2014

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya

Universitas Indonesia

DEKONSTRUKSI, GLOBALISASI DAN KREATIVITAS

LAPORAN BACAAN DARI BUKU SEMIOTIK & DINAMIKA SOSIAL BUDAYA

KARYA Prof. Dr. Benny H. Hoed

Pada laporan bacaan kali ini, penulis mengangkat sebuah tema yang berjudul Dekonstruksi, Globalisasi, dan Kreatifitas, bersumber dari tulisan Prof. Dr. Benny H. Hoed yang berjudul Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya. Pertama-tama penulis akan memulai dengan memberikan pengertian mengenai dekonstruksi dan globalisasi itu sendiri. Baru kemudian, akan dibahas lebih lanjut mengenai unsur-unsur yang berkaitan seperti modernitas, kreatifitas, dan wacana baru.  

Pengertian Dekonstruksi

Istilah dan teori dekonstruksi lahir dari tulisan seorang filsuf barat dan pakar sastra bernama Jacques Derrida. Derrida menolak membatasi definisi dekonstruksi karena pada dasarnya dekonstruksi bersifat antiteori dan antimetode, misalnya dekonstruksi hanya bisa diterapkan langsung jika kita membaca teks lalu menerapkannya dalam perilaku/aksi. Seperti halnya yang dikatakan oleh Hoed (2008: 15-16) bahwa pada pemahaman teks sastra, dekonstruksi berkaitan dengan unsure ekspresi teks (penanda) dan unsure isi (petanda) yang tidak dapat dipahami secara sistematis guna memperoleh makna lain atau makna baru teks. Metode dekonstruksi pada teks sastra bersifat ketat yang berguna untuk nmenghasilkan analisi yang handal dan melahirkan pemikiran kritis yang bersifat individual dan mungkin controversial.

Terdapat tiga poin penting dalam dekonstruksi menurut Derrida, yaitu:

  1. dekonstruksi, seperti halnya perubahan terjadi terus-menerus, dan ini terjadi dengan cara yang berbeda untuk mempertahankan kehidupan;
  2. dekonstruksi terjadi dari dalam sistem-sistem yang hidup, termasuk bahasa dan teks;
  3. dekonstruksi bukan suatu kata, alat, atau teknik yang digunakan dalam suatu kerja setelah fakta dan tanpa suatu subyek interpretasi.

Dalam konteks kajian buda­ya, dekonstruksi banyak dipakai sebagai perangkat untuk membaca gejala-gejala budaya, terutama sebagai sebu­ah teks. Pembacaan dekon­struktif yang dilakukan terhadap teks-teks budaya itu telah melahirkan berbagai panda­ngan-pandangan dan pemi­kiran-pemikiran baru, terutama berkenaan dengan nasional-poskolonial-transnasional-global, budaya pop, dan iden­titas budaya, seperti ras, gender, kelas, etnisitas, dan agama. Pandangan-pandangan atau pemikiran-pemikiran atau makna-makna baru itu di­peroleh melalui differance yang ada dalam teks-teks yang me­ngan­dung hal-hal tersebut. Dengan dekonstruksi, Hoed (2008: 103-108), misalnya, dapat menemukan pengertian baru terhadap kata globalisasi, yang berbeda maknanya dari makna yang sudah dipahami secara umum.

 

Globalisasi dalam Masyarakat Kita

Sebelum penulis mengkaji lebih jauh tentang globalisasi dalam masyarakat, penulis akan menjabarkan terlebih dahulu mengenai pengertian globalisasi. Terdapat beraneka ragam definisi globalisasi menurut berbagai pakar, namun dapat ditarik garis merahnya, bahwa globalisasi yang diambil dari kata global, yang maknanya adalah universal, merupakan suatu proses pengintegrasian manusia dengan segala macam aspek-aspeknya ke dalam satu kesatuan masyarakat yang utuh dan yang lebih besar. Meskipun pada dasarnya, tidak terdapat definisi yang mapan mengenai globalisasi, kecuali hanya sekedar definisi kerja. Hal ini dikarenankan, definisi globalisasi akan berbeda-beda tergantung dari sudut pandangnya. Definisi globalisasi dapat dilihat dari sudut pandang soail, politik, budaya, ekonomi, dan lain-lain.  Dalam kajian budaya, globalisasi merupakan gejala budaya akibat suatu proses terbentuknya dan tersebarnya kebudayaan dunia di berbagai negara yang lahir dari berbagai interaksi antar manusia, masyarakat, dan negara. Globalisasi merupakan “langue” (de Saussure, 1916) atau “prinsip-prinsip supra-individual” (Eco, 1990) yang mendunia. Artinya, suatu kebudayaan baru sedang merebak dan melanda seluruh dunia.

 

Mendekontruksi Pengertian Globalisasi 

Setelah mendekontruksi istilah globalisasi, dengan menggunakan teori Derrida ini, akan diperoleh pengertian lain, yaitu bahwa globalisasi adalah suatu proses yang terjadi dari arah utara ke selatan melalui berbagai media. Seperti halnya kebudayaan, globalisasi tidak muncul begitu saja. Hal itu lahir sebagai akibat dari revolusi industri, kapitalisme dan kolonialisme. Dalam kenyataannya, kebudayaan global itu datang dari luar dan berasal dari negara-negara maju. Dengan kelebihannya di bidang teknologi dan, khususnya teknologi informasi sehingga menguasai media massa internasional, negara maju mengalirkan kebudayaannya dari “Utara” ke “Selatan”. Kemudian, bersama dengan konsep globalisasi disebarkan konsep-konsep yang universal lannya seperti demokrasi, modernisasi, dan liberalisasi perdagangan.


Modernitas dan Kreativitas


Modernitas merupakan sesuatu yang endogen. Oleh karena itu, masyarakat mempunyai sifat yang dinamis. Modernitas dan kreativitas sering kali dihadapkan dengan adat istiadat dan tradisi asal kita. Dalam kaitan ini kita harus berani mendekonstruksi konsep- konsep yang masuk bersama dengan globalisasi yang sudah mentradisi di negara kita agar kita dapat bereaksi terhadap globalisasi secara lebih sesuai dengan keadaan kita sendiri. Kreativitas yang ada pada kita dapat mendekonstruksi tradisi dan adat-istiadat baru itu. Jadi, kreativitas harus berani membuka makna-makna baru. Dengan kata lain, kita harus berani menciptakan wacana kita sendiri di tengah wacana yang saat ini menjadi mainstream dalam masyarakat internasional yang menguasai kita.

Dekonstruksi dan Wacana Baru

Makin menjadi jelas bahwa globalisasi adalah suatu gejala yang berkembang menjadi budaya, karena kita diberi pengertian mengenai adanya suatu kebudayaan global yang harus kita terima karena baik dan dapat membuat kita maju. Dengan melakukan dekonstruksi atas makna istilah globalisasi, sebenarnya kita telah menggunakan otonomi individual dan kreativitas kita untuk menemukan wacana baru. Globalisasi menyangkut berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat kita. Jadi, globalisasi harus kita tanggapi secara kritis dengan upaya membuka wacana baru yang datang dari dalam kebudayaan kita sendiri dan memilah unsur luar yang  baik untuk masyarakat.

Kesimpulan

Pengembangan globalisasi telah memberikan dampak positif dan negative bagi masyarakat kita. Negara kita telah terprovokasi oleh hegemoni negara maju, yang disebut juga sebagai arah utara sebagai pihak yang memberikan andil terbesar dalam menyebarkan kebudayaan. Dekonstruksi globalisasi dihadirkan untuk menjauhkan paradigma tersebut. Maka dari itu, pola pikir kritis dan kreatifitas harus dikembangkan dengan cara menciptakan wacana baru untuk menepiskan hal-hal yang dianggap hanya dikuasai oleh negara maju. Sehingga dalam praktiknya, adanya pemikiran terhadap dekonstruksi globalisasi akan membantu masyarakat menyaring perilaku dari budaya luar untuk dapat dipilih mana yang baik dan sesuai dengan kebudayaan kita.

Permalink

Makna Wacana Dibentuk oleh Konteks

KAJIAN WACANA

TUGAS LAPORAN BACAAN I

DISCOURSE ANALYSIS

BARBARA JOHNSTONE

oleh

Idea Bhakti Pertiwi

1406591314

 

PROGRAM STUDI LINGUISTIK

PROGRAM MAGISTER

FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA

UNIVERSITAS INDONESIA

2014

Makna Wacana Dibentuk oleh Konteks

Barbara Johnston pada bab I buku Discourse Analysis memaparkan proses pembentukan wacana dan konteks. Ia mendefinisikan wacana ke dalam dua kategori, yaitu wacana sebagai ‘mass noun’ (discourse) dan wacana sebagai ‘count noun’ (discourses). Pada ‘mass noun’, wacana berkaitan dengan media komunikasi, sedangkan pada ‘count noun’, wacana mengandung aspek ideologis dan kekuasaan. (Johnston 2002: 1-2).

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menjadi dasar analisis, seperti “apa yang dibicarakan dalam teks?”, “siapa saja partisipan dalam teks?”, bagaimana teks tersebut dibuat?”, “bagaimana struktur teks tersebut?”, serta “apa media yang digunakan?”, Johnston menggunakan enam aspek yang dapat menunjukkan makna wacana adalah terbentuk oleh konteks. Enam aspek tersebut, antara lain:

  1. Dunia (world). Wacana dibentuk oleh realitas dan wacana membentuk realitas (dunia).

Contoh: dalam pemberitaan mengenai komunitas muslim dan peristiwaWorld Trade Center pada September 2011 lalu, beberapa media barat menyandingkan kata “jihad” dengan kata “perang”, “terror”, dan “ekstrimis”. Sehingga komunitas muslim direpresentasikan sebagai teroris. Dengan demikian wacana dan pemahamannya dibentuk oleh dunia pencipta dan penafsir teks, dan dunia mereka dibentuk oleh wacana yang ada.

  1. Bahasa (language). Wacana dibentuk oleh bahasa dan wacana membentuk bahasa.

Contoh: kata-kata yang sering di temukan pada WC Umum, seperti “Sehabis buang air, mohon disiram sampai bersih”, dalam kalimat tersebut terdapat praanggapan bahwa sehabis buang air, pengguna WC Umum seringkali tidak menyiram WC hingga bersih. Kalimat tersebut merupakan ajakan petugas/pemilik WC Umum untuk menjaga kebersihan tempat tersebut. Sehingga terlihat bahwa motivasi teks dapat dilihat dari struktur kalimat yang dibangun. 

  1. Partisipan (participants). Wacana terbentuk dan memebentuk partisipan.

Contoh: Sapaan yang digunakan oleh karyawan sebuah perusahaan yang menulis surat kepada atasannya menggunakan “Yth. (Yang Terhormat) Bapak Direksi PT. Maju Mundur”, menandakan adanya hubungan formal antara seorang karyawan dengan bos/atasannya. Namun, akan berbeda ketika karyawan tersebut menulis surat untuk orang tuanya di kampong halaman, sapaan tersebut akan berubah menjadi lebih intim seperti, “Yang tersayang Ibu dan Bapak di kampung”. Contoh tersebut menunjukkan hubungan interpersonal antara pembicara dan audiens maupaun antara penulis dan pembaca baik dalam produksi maupun interpretasi teks.

  1. Wacana sebelumnya (prior discourse). Wacana dibentuk oleh wacana sebelumnya dan wacana dapat membentuk wacana selanjutnya.

Contoh: pada billboard rokok, ada gambar seorang lelaki gagah bersama seorang harimau, dan tulisan “pria punya selera”. Hubungan antara teks satu dengan teks lainnya membentuk satu makna baru bahwa pria yang merokok adalah pria yang gagah dan kuat seperti harimau. Contoh tersebut mempelihatkan hubungan intertekstualitas yang dibentuk oleh pemilihan jargon dan gambar pada sebuah iklan.

  1. Media (medium). Wacana dibentuk oleh medianya dan wacana membentuk kemungkinan medianya.

Contoh: Pada sebuah iklan pencuci rambut di televise, beberapa lelaki ditanya tentang bagaimana perempuan “cantik” itu. Mereka semua menjawab, “rambut hitam dan panjang”. Di sini dapat diamati bahwa media telah memebentuk wacana “perempuan cantik berambut hitam dan panjang” dan mengonstruksi opini public tentang citra perempuan Indonesia yang cantik.

  1. Tujuan (purpose). Wacana dibentuk oleh tujuan dan wacana membentuk tujuan-tujuan yang mungkin.

Contoh: Pada saat pemilihan presiden RI lalu, rombongan calon presiden Prabowo ditemani dengan Abu Rizal Bakrie sebagai tim suksesnya, berkampanye di kota Bandar Lampung, Lampung. Pada saat bapak Bakrie memberikan  pidato, ia terlebih dahulu bercerita tentang masa kecilnya hidup dan tinggal di Lampung, baru kemudian mengajak audiens untuk bersama-sama memilih calon pasangan presiden nomor satu. Narasi yang digunakan Abu Rizal Bakrie seolah-olah mengindikaskan bahwa ia datang atas dasar kekeluargaan alih-alih kepentingan politis.

Enam aspek tersebut di atas memperlihatkan pembentukan wacana oleh konteks, dengan kata lain oleh sesuatu yang berada di luar teks. Johnstone juga memaprkan dengan jelas bahwa analisis wacana bekerja dengan teks sebagai satu kesatuan, serta mengaitkannya dengan apa yang ada di luar teks untuk menemukan konteks. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pemahaman yang Johnstone coba paparkan dalam buku Discourse Analysis adalah wacana tidak terlepas dari konteks, keduanya saling berkaitan erat. Wacana membentuk dan dibentuk oleh konteks.

Daftar Pustaka:

Johnstone, Barbara. (2002). Discourse Analysis. Massachussets: Blackwell Publisher Inc.

Permalink
Permalink
Permalink

I decided to make my next few years wish list.

Since yesterday, I tried an analytical quiz named ‘what career should you have?’ in facebook. And surprisely, the answer is so me! I got diplomat as my top list career, and followed by entrepreneur, consultant, HR manager, and hotel owner. God, they are truly suit me! And maybe this is the signal of my Allah to tell me what I most best in. :)

And immediately, I reflected all those carrers with my current condition. I have and I’m running my own business, so entrepreneur already goes to me.

And what about consultant? I have plan to be a interpreter, translator, and business consultant as my career in my old age. I started being a consultant but still for fun and free giving my advice to my friends who want to run their very first business. 

I do really want to have my own hotel. Sounds lovely having it in South of France haha! I keep dreaming high ya know since I was born LOL! I hope I could have enough money to realize this expensive career someday in the future. Amen. Oh, at least I have my own wedding building as cool as the one in Dubai. :D

I don’t have any intention to be an employee of other’s company. I’d love to build my own. So, being HR manager in other’s company is a no, but gladly I’ll apply this ability to hire my own employees. It’s more interesting! :)

Except for diplomat - interpreter, How would I be a diplomat without working in others company, in this case working in government. And being a conference interpreter is my biggest dream since I’ve selected to pursue my master study of translation  in Universitas Indonesia. And conference interpreters mostly working in United Nations. So, these two career are the exception. :)

Let’s catch up my top wish list regarding my coming up careers! Here they are:

1. Conference interpreter at UN Geneva - Switzerland (to choose between diplomat or conference interpreter? Honestly, I prefer the second one).

2. Owner and CEO of organic bath and beauty product’s company.

3. Owner and CEO of translation and interpretation company.

4. A famous fashion designer.

5. Running another business such as: wedding organizer, catering, Hajj travel agent, restaurant owner, food manufacturers, plantation owner, and so on..

Since now, I only succesful in running my wedding organizer, will starting catering business, and still experimenting my bath and beauty product’s recipes. Plus, I’m gonna be a college student again! Excited!

I’m wondering would I bring into reality all of my wish list above and how and when, only if I have enough time to live in this world.. So, it’s a secret of God. Exactly, my true purpose is not to live in this world, but Jannah is..

Amen. :)

ps: keep dreaming high and realize more high! hihi..

Bandar Lampung, July 26th 2014

-Idea Pertiwi-

Permalink

"What will you be in the next days," she asked me.

Seorang teman bertanya padaku mengenai profesiku, menyangkut kodratku sebagai seorang wanita yang nantinya in shaa Allah akan menjadi seorang isteri (memiliki suami, kemudian ikut dengan suami, dst). Sebetulnya, pertanyaan ini sudah sering ditanyakan kepadaku oleh mama, tapi baru kali ini ada seorang teman yang bertanya pertanyaan serupa tersebut. Suatu ketika aku mempost sebuah pernyataan mengenai akan dibentuknya usaha catering milikku di twitter. Seorang teman yang kebetulan akan menikah di akhir tahun dan secara kebetulan juga memakai jasa wardrobe milikku dan mama, menyampaikan ucapan selamat kepadaku dan mendoakan agar persiapan pembukaan usaha catering ini berjalan lancar.

"Gue doain semoga usaha lo gede ya De.. Ikut seneng gue.."
"Amiiin say.. Kalo mau catering jgn kemana-mana ya.. ke gue aja hehe..”
"Siap! Asal ada harga almamater yaaa hahahha…"
"Pasti dong.. Apa sih yang enggak buat kamu wkkk.."

Perbincangan kami berlanjut menenai jasa catering apa saja yang akan aku sediakan. Kebetulan, aku sudah merancang catering untuk pesta pernikahan, buffet, prasmanan, rice box, snack box, daily menu, diet program, hingga ramadhan snack. Aku bersemangat sekali menjelaskan detil service cateringku kepadanya. Maklumlah aku memang jatuh cinta sekali dalam bisnis Wedding Organizer ini, termasuk usaha cateringnya. We can say that I did found my ‘passion meets job’. It’s one of Allah blessings. Thanks Allah. I love you every breath.

Setelah kujawab semua pertanyaannya, aku pikir kami akan segera menyudahi percakapan itu seperti biasanya di hari-hari sebelumnya. Tapi ternyata, ada pertanyaan lain. Bukan tentang catering atau wedding organizer, tapi…

"I’m still wondering how could you be in next days my ‘supah’ entrepreneur friend."
"Aku? Jadi apa? Ya tetap jadi temanmu yang baik yang akan kasih diskon terus dong sayoong hehe.."
"No dear. I mean thanks, but that’s not what I would like to ask."
"Hmm serius banget sih cantik, gimana gimana?"
"Gue mau nanya nih ya.. Tapi janji jangan jadi galau abis gue tanya.. Oke?"
"Ahaha.. Lupa ya kalau aku temanmu yang anti galau? Haha oke siap bu dokter!"
"Lo pernah mikir nggak sih, kalau nanti lo nikah dan dapat suami yang nggak stay di Lampung dan minta lo ninggalin semua karir lo yang lo banget ini? I mean, gue percaya, lo bisa dengan cepet bikin usaha lo besar dan jadi nomor satu di sini. Karena gue bisa ngerasain kalau lo ngejalanin ini semua dengan hati. Total. Dan bahagia banget. Ya kan? Nah tapi nanti kalau lo harus ninggalin ini semua, mungkin dalam waktu dekat, gimana tuh De? Apa lo bakal cari suami yang stay di Lampung aja gitu? Atau.. lo bakal ninggalin ini usaha? Duh.. tapi sayang banget De!!"
"Hmm.. aku sih terserah takdir Allah aja hihi.."
"Ish.. yaiyalah semua juga gitu.. tapi kan lo harus punya rencana ke depan dan harus udah mikirin ini Deee.."
"Hehe.. udah kok udah."
"So?"

Banyak yang tak mengetahui kalau tujuan utamaku saat ini dan seterusnya adalah bukan karir atau yang lainnya, tetapi ridha Allah. Yang aku cari dalam setiap pekerjaanku di dunia ini hanya ridha Allah. Bagaimana caranya agar aku pantas bermukim di Jannah-Nya kelak.

"Ikut suami juga nggak papa, LDR juga boleh. Tapi lebih ingin terus bersama suami sih, supaya pahalaku makin banyak karena bisa senantiasa berbakti kepada imamku nanti."
"Jadi lo bakalan ninggalin semua ini? Yakin? Atau ada yang nerusin? Nyokap lo ya?"
"Why not. Belum ada. Nyokap udah nggak sanggup ngurus beginian, udah capek, kasian.."
"Terus? Ishh.. sayang tauuuuu!"
"Hei kamu lupa ya, aku kan entrepreneur. Aku bisa kapan saja dan di mana saja bikin bisnis baru. Entrepreneur kan bukan orang yang menunggu peluang, melainkan mereka menciptakan peluang itu sendiri. Makanya aku bersyukur banget punya mental entrepreneur hehe..”
"Ya tapi sayang De kalo nggak diterusin.. Sia-sia dong berarti usaha selama setahunan ini? Ini tuh termasuk pencapaian besar loh. Gue aja belum tentu bisa bikin kayak gini. Ngebayanginnya aja udah sakit gigi. Lo sih ajaib deh."
"Nggak masalah kok.. Aku cuma percaya sama ketentuan Allah.. Karena aku yakin, Allah berikan yang aku butuhkan. Kalau Allah takdirkan aku hanya sebentar di bisnis ini, ya alhamdulillah.. Kalau lama, ya alhamdulillah juga.. In shaa Allah, Allah selalu kasih petunjuk dan bukakan pintu rezeki seluas-luasnya. Berapa pun yang kata kamu ‘sia-sia’, tapi kalau kata Allah bukan rejekiku, aku ikhlas kok.. Karena semua yang ada di dunia ini hanya titipan, semua milik Allah.. Yang aku lakukan saat ini adalah bagaimana caranya bisa bermanfaat bagi orang banyak di sekitarku. Saat ini mungkin Allah maunya aku berbuat dulu di Lampung. Mana tahu, besok Allah maunya aku buka cabang di Kupang hehe.."

Percakapan via LINE siang itu berakhir dengan tawa renyah penuh syukur dua orang muslimah, yang seorang akan segera mengakhiri masa lajangnya, dan yang seorang lagi masih menunggu gilirannya untuk dilamar dan kemudian menikah.

TAMAT

Bandar Lampung, 12 Juli 2014

Idea Pertiwi

CEO & Owner of Ceremonial Planner and Organizer - Ceremonial’s Kitchen

Permalink I just love the layer of my Moccaffee Re-invited bar soaps! #ideasoapmakingstory #homemadesoap #organicsoap :)
Permalink

Smart analyse! :))

  • Socialism: You have 2 cows and you give one to your neighbor.
  • Communism: You have 2 cows; the Government takes both and gives you some milk.
  • Fascism: You have 2 cows; the Government takes both and sells you some milk.
  • Nazism: You have 2 cows; the Government takes both and shoots you.
  • Bureaucratism: You have 2 cows; the Government takes both, shoots one, milks the other and throws the milk away..
  • Traditional Capitalism: You have 2 cows. You sell one and buy a bull. You herd multiplies, and the economy grows. You sell them and retire on the income.
  • An American Corporation: You have 2 cows. You sell one, and force the other to produce the milk of four cows. Later, you hire a consultant to analyze why the cow dropped dead.
  • A French Corporation: You have 2 cows. You go on strike because you want three cows.
  • Japanese Corporation: You have 2 cows. You redesign them so they are one-tenth the size of an ordinary cow and produce twenty times the milk. You then create a clever cow cartoon image called Cowkimon and market them Worldwide.
  • An Italian Corporation: You have 2 cows, but you don't know where they are. You break for lunch.
  • A Swiss Corporation: You have 5000 cows. None of which belong to you. You charge others for storing them.
  • Chinese Corporation: You have 2 cows. You have 300 people milking them. You claim full employment, high bovine productivity, and arrest the newsman who reported the numbers.
  • An Iraqi Corporation: Everyone thinks you have lots of cows. You tell them that you have none. No one believes you and they bomb your arse. You still have no cows, but at least now you are part of a Democracy.......
  • Counter Culture: 'Wow, dig it, like there's these 2 cows, man, grazing in the hemp field. You gotta have some of this milk!'
  • Surrealism: You have two giraffes. The government requires you to take harmonica lessons.
  • Apathyologism: You have 2 cows. You do not care.
  • Fatalist: You have 2 doomed cows...
  • Atheism: You have 2 cows. There is no God.
  • A West-Country Corporation: You have 2 cows. That one on the left is kinda cute.
  • A Brazilian Corporation: You have 2 cows. You pay taxes for 6 cows. You have to sell one cow in order to pay the taxes. Your remaining cow gets sick and dies while waiting for availability in the public vet hospital.
  • Russia: You have two cows. Since they are both female, if you happen to keep them in the same stable you will pay a 5,000 rouble fine for homosexual propaganda.
  • PETA: You have two cows. You kill them both. You then use naked women to convince other people that killing cows is wrong.
  • Moffat: You have two cows. Both of them are your daughters time traveling from the past where they had a brief love affair with Da Vinci making you the rightful Queen of England. As you assume the throne, you throw them off a building.
  • Hussie: You have 2 cows. You ask for another one. Instead of getting just 1 cow, you get 2,485,506 cows.
  • Romney: You have 2 cows. You are not the president of the united states.
  • Once-ler: You have 1 cow. Everyone decides to make 5 different versions of that cow.
  • Old Spice: You have 2 cows. The cows are now diamonds. I'm on a horse.
  • An Irish Corporation: You have a million cows because they're everywhere
  • Tumblr: You have 2 cows. You ship them together and make GIF posts screaming about how much you love your cows, but they should stop existing because they are so perfect.
  • Also Tumblr: I give you a hamburger.
  • Cows: The shit you go through.
  • This post: Started off as a post that explained different goverments but then everything changed when the fire nation attacked
Permalink It’s #CandyKareueut! A fundrising project presented by @RotaractBSKK selling sweet candies at Car Free Day Dago Bandung. All income will be donatec to support Rotaract Bandung Sentral Kota Kembang’s social projects. Grab those sweet candies, take your selfie with #CabdyKareueut characters, twit to @RotaractBSKK, and enjoy them! Buy them right now before sold out! It’s limited! It’s #candyforcare, #socialfundrisingproject, it’s #CandyKareueut! #proudtobetotaractors :)
Permalink #heartsofvolunteers di @tiga_60 Metro TV 16 Mei 2014.  Congrats team! Good job Mr. Coordinator @dewa_rahyang! :)
Permalink Handbook of scholarship study in francehttp://ppifrance.fr/download/handbook_of_scholarship_study_in_france.pdf
Permalink (via Lampung News Paper | Wedding Organizer by Idea Pertiwi Hadir di Lampung)
Permalink #tbt Andri & Ayu’s Wedding Ceremony in Sundaness, Teluk Betung, 8 Februari 2014. More on @ceremonialplanner. #ceremonialsXtiaraayu #ceremonialplannerandorganizer.
Permalink Entrepreneurs are the real heros, heros of business, of the economy, and heros of development. Because entrepreneurs seek and create opportunities, they don’t await occasions. To be a successful and strong entrepreneur is not easy at all. It happened in any country. Always remember that entrepreneurs are people who have ideas, entrepreneurs are creative, innovative, and happy with breakthrough. They do not like mediocrity. They dare to start a new thing which doesn’t exist before. They dare to take risks. They don’t pasively but actively seek and find. Entrepreneurs must be patient, persistent, and never give up people. They are also ready to fail, but will try again, try again, and won’t find a shortcut. I’ve read stories of successful entrepreneursaround the world who have become millionaires, billionaires, are those who failed, and then tried again, tried again, and finally succeeded. THEY ARE ENTREPRENEURS. :)
Permalink Bon anniversaire mon Rotaract Club of Bandung Sentral Kota Kembang. Le meilleur l’organisation sociale, amitié, professionelle que j’ai jamais rencontré. Puission-nous ne pouvons toujours partager notre solidarité à tout le monde avec l’amour, la compassion, et la compréhension. Disons jamais arrêter fe faire de notre mieux volontaire jusqu’à ce que notre temps est écoulé. Disons inspirer d’autres comme nous avons toujours fait inconsciemment. Je t’aime mon club, ma famille en son sein. Je t’aime plus que je pourrais dire. :’) #rotaractbskk #anniversaire #rotaractclub
Get Free Music at www.divine-music.info
Get Free Music at www.divine-music.info

Free Music at divine-music.info